Di dunia medis, kemampuan mengelola jalan napas pasien adalah keterampilan krusial yang harus dimiliki setiap tenaga kesehatan, terutama dalam bidang anestesiologi dan perawatan intensif. Salah satu alat yang telah banyak membantu dalam prosedur anestesi dan situasi darurat adalah Laryngeal Mask Airway (LMA). Sejak diperkenalkan, LMA telah menjadi alat penting yang memudahkan akses cepat ke jalan napas dengan teknik yang lebih sederhana dan kurang invasif dibandingkan intubasi trakea. Artikel ini akan menjelaskan secara mendalam tentang LMA, termasuk jenis-jenis, indikasi, kontraindikasi, serta teknik pemasangannya, dengan tujuan memberikan pemahaman yang komprehensif bagi pemula dan praktisi medis lainnya.


Pendahuluan: Apa Itu Laryngeal Mask Airway (LMA)?

Laryngeal Mask Airway (LMA) adalah alat bantu jalan napas yang banyak digunakan dalam anestesiologi modern. Alat ini memberikan alternatif yang lebih sederhana dibandingkan dengan endotracheal tube (ETT), memungkinkan pemasangan yang cepat tanpa perlu visualisasi langsung dari jalan napas. Dirancang pertama kali pada tahun 1981 oleh Dr. Archie Brain, seorang anestesiologis dari Inggris, LMA kini menjadi alat penting untuk mengelola jalan napas, terutama dalam kasus elektif dan kondisi di mana akses cepat ke jalan napas sangat diperlukan.

LMA memberikan akses efektif ke jalan napas tanpa perlu memasukkan tabung ke dalam trakea. Hal ini mengurangi manipulasi jaringan sensitif di sekitar laring, sehingga risiko iritasi dan trauma dapat berkurang. Memahami fungsi dasar LMA adalah penting karena alat ini sering digunakan dalam operasi yang tidak memerlukan intubasi konvensional.

Laryngeal Mask Airway (LMA): jenis, indikasi, kontraindikasi, protokol DAS, teknik pemasangan, dan perbandingannya dengan teknik jalan napas lain dalam anestesiologi

Penggunaan LMA sangat berguna dalam berbagai situasi klinis. Pada kasus di mana intubasi sulit atau gagal, LMA bisa menjadi penyelamat. Oleh karena itu, pemahaman tentang kapan dan bagaimana menggunakan LMA menjadi dasar yang penting dalam keahlian airway management.

Setelah memahami gambaran umum tentang LMA, mari kita lanjutkan ke pembahasan mengenai Anatomi dan Prinsip Kerja LMA, untuk memahami bagaimana alat ini berfungsi dalam membantu kebutuhan pernapasan pasien.

Anatomi dan Prinsip Kerja LMA

Untuk memahami cara kerja Laryngeal Mask Airway (LMA), kita perlu mengenali anatomi dan prinsip kerjanya. LMA terdiri dari dua bagian utama: mask atau topeng dan tube atau tabung. Mask pada LMA dirancang agar sesuai dengan struktur di sekitar faring, tepatnya di atas laring, menciptakan segel yang memungkinkan udara mengalir dengan efisien ke trakea.

Pada ujung mask terdapat bantalan atau cuff yang dapat diinflasi untuk memastikan segel antara mask dan jaringan faring, sehingga udara yang diberikan dari tabung masuk ke paru-paru. Tabung pada LMA berfungsi sebagai saluran udara atau gas anestesi dari sirkuit anestesi ke mask, dan selanjutnya ke jalan napas pasien. Desain sederhana ini memungkinkan pemasangan yang lebih cepat dan minim risiko cedera pada jaringan trakea.

Dalam pemasangan, LMA diletakkan di mulut dan diarahkan ke faring hingga mask menutupi laring. Karena LMA hanya menutup di atas laring tanpa memasuki trakea, alat ini diklasifikasikan sebagai supraglottic airway device. Posisi ini memungkinkan LMA memberikan ventilasi yang efektif untuk prosedur singkat pada pasien dengan risiko aspirasi rendah.

Pemahaman tentang anatomi dan prinsip kerja ini penting sebelum mempelajari Jenis-Jenis LMA yang tersedia, di mana masing-masing jenis memiliki kelebihan sesuai kebutuhan klinis yang berbeda.

Jenis-Jenis Laryngeal Mask Airway

Seiring perkembangan ilmu anestesiologi dan airway management, berbagai jenis Laryngeal Mask Airway (LMA) telah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Berikut ini adalah jenis-jenis utama LMA yang banyak digunakan dalam praktik klinis:

Jenis LMA Fitur Utama Indikasi Penggunaan
LMA Klasik Memiliki cuff yang diinflasi untuk menciptakan segel di sekitar laring Prosedur singkat dengan risiko aspirasi rendah
LMA ProSeal Dilengkapi dengan saluran drainase untuk mengurangi risiko aspirasi Prosedur kompleks atau pasien dengan risiko aspirasi rendah hingga sedang
LMA Supreme Versi sekali pakai dengan saluran drainase; lebih kaku dan ergonomis Prosedur dengan kebutuhan proteksi aspirasi tambahan
LMA Flexible Tabung fleksibel untuk ruang kerja yang lebih luas di sekitar mulut Prosedur bedah mulut atau gigi
i-gel LMA Tanpa cuff, dibuat dari bahan gel yang membentuk segel alami Situasi darurat, resusitasi, atau pasien dengan risiko trauma jaringan rendah
LMA Protector Saluran drainase ganda, lapisan anti-kuman Prosedur dengan risiko infeksi tinggi atau kebutuhan proteksi aspirasi optimal

Setiap jenis LMA memiliki indikasi dan kelebihan tertentu. Pemilihan jenis yang tepat bergantung pada kondisi pasien dan prosedur. Setelah membahas berbagai jenis LMA, kita akan melanjutkan ke Indikasi dan Kontraindikasi Penggunaan LMA untuk mengetahui kapan alat ini sebaiknya digunakan dan kapan perlu dihindari.

Tabel Ukuran LMA Berdasarkan Berat Badan Pasien dan Jenis LMA

Berat Badan Pasien Ukuran LMA Berdasarkan Jenis Kode Warna i-gel
LMA Unique
(Cuff Volume)
i-gel
(NG/ET Tube Size)
ProSeal
(Cuff Volume)
Supreme
(Cuff Volume / NG Tube Size)
Kurang dari 5 kg Size 1 (4 mL) Size 1
ET: 3.0 mm
Size 1 (4 mL) Size 1 (5 mL / 6 Fr) Pink
5-12 kg Size 1.5 (7 mL) Size 1.5
NG: 10 Fr / ET: 4.0 mm
Size 1.5 (7 mL) Size 1.5 (8 mL / 6 Fr) Abu-abu
10-25 kg Size 2 (10 mL) Size 2
NG: 12 Fr / ET: 5.0 mm
Size 2 (10 mL) Size 2 (12 mL / 12 Fr) Biru Muda
25-35 kg Size 2.5 (14 mL) Size 2.5
NG: 12 Fr / ET: 5.0 mm
Size 2.5 (14 mL) Size 2.5 (20 mL / 12 Fr) Putih
30-60 kg Size 3 (20 mL) Size 3
NG: 12 Fr / ET: 6.0 mm
Size 3 (20 mL) Size 3 (30 mL / 12 Fr) Hijau
50-90 kg Size 4 (30 mL) Size 4
NG: 12 Fr / ET: 7.0 mm
Size 4 (30 mL) Size 4 (45 mL / 14 Fr) Kuning
90+ kg Size 5 (40 mL) Size 5
NG: 14 Fr / ET: 8.0 mm
Size 5 (40 mL) Size 5 (45 mL / 14 Fr) Oranye

Indikasi dan Kontraindikasi Penggunaan LMA

Meskipun Laryngeal Mask Airway (LMA) bermanfaat dalam berbagai situasi klinis, terdapat indikasi khusus dan kontraindikasi penggunaannya. Penting untuk memahami kondisi yang mendukung penggunaan LMA serta situasi yang berisiko.

Kategori Kondisi Klinis Penjelasan
Indikasi Prosedur Operasi Elektif Prosedur singkat dan sederhana dengan risiko aspirasi rendah
Indikasi Manajemen Jalan Napas Sementara Untuk pasien yang mengalami kesulitan pernapasan tanpa memerlukan intubasi trakea
Kontraindikasi Risiko Tinggi Aspirasi Pasien yang tidak puasa atau dengan GERD berisiko aspirasi tinggi, sehingga LMA kurang dianjurkan
Kontraindikasi Prosedur Panjang atau Kompleks Memerlukan kontrol jalan napas yang ketat sehingga lebih cocok menggunakan ETT

Selain indikasi dan kontraindikasi ini, terdapat beberapa faktor tambahan yang perlu dipertimbangkan untuk memastikan keberhasilan penggunaan LMA. Mnemonik RODS adalah alat bantu yang membantu tenaga medis dalam menilai potensi kesulitan pemasangan supraglottic airway device (SAD), termasuk LMA.

Mnemonik RODS untuk Evaluasi Kesiapan Pemasangan LMA

Mnemonik RODS digunakan untuk mengidentifikasi potensi kesulitan pemasangan LMA pada pasien tertentu. RODS membantu dalam mengevaluasi kesiapan pemasangan SAD dengan mempertimbangkan empat faktor berikut:

  • R - Restricted mouth opening: Pembukaan mulut terbatas, sering terjadi pada trauma wajah atau spasme rahang.
  • O - Obstruction: Adanya obstruksi di jalan napas atas seperti tumor, edema, atau benda asing.
  • D - Distorted airway: Kelainan atau distorsi anatomi jalan napas akibat trauma, infeksi, atau kelainan bawaan.
  • S - Stiff lungs or cervical spine: Pada pasien dengan penyakit paru restriktif atau kekakuan tulang belakang leher, resistensi terhadap ventilasi bisa meningkat, menyulitkan penggunaan LMA.
Kriteria Deskripsi Dampak pada Pemasangan LMA
R - Restricted mouth opening Pembukaan mulut terbatas, sering terjadi pada trauma wajah atau spasme rahang. Menyulitkan atau mencegah pemasangan LMA karena akses terbatas ke faring.
O - Obstruction Obstruksi di jalan napas atas seperti tumor, edema, atau benda asing. Menghalangi atau membatasi fungsi LMA dalam menyediakan ventilasi yang efektif.
D - Distorted airway Kelainan atau distorsi anatomi jalan napas akibat trauma, infeksi, atau kelainan bawaan. Menyulitkan pemasangan karena LMA mungkin tidak pas atau tidak menciptakan segel yang efektif.
S - Stiff lungs or cervical spine Kondisi paru-paru kaku atau kekakuan pada tulang belakang leher. Ventilasi mungkin tidak efektif dengan LMA karena resistensi tinggi terhadap aliran udara.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor dalam RODS, tenaga medis dapat mengevaluasi kelayakan pemasangan LMA dan memutuskan apakah LMA adalah pilihan yang tepat atau perlu mempertimbangkan metode jalan napas lain, seperti intubasi endotrakeal. Evaluasi ini sangat berguna, terutama dalam situasi darurat atau kondisi pasien yang kompleks.

Teknik Pemasangan LMA

Pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA) adalah keterampilan penting dalam airway management. Prosedur ini memerlukan latihan dan ketelitian untuk meminimalkan risiko komplikasi. Berikut adalah langkah-langkah umum dalam pemasangan LMA:

Langkah Deskripsi Tujuan
Persiapan Alat Memilih ukuran LMA sesuai berat badan pasien dan melakukan uji inflasi cuff Memastikan alat berfungsi dan sesuai dengan kondisi pasien
Pelumasan Memberi pelumas berbasis air pada permukaan mask Memudahkan pemasangan dan mengurangi iritasi jaringan
Posisi Kepala Mengatur kepala pasien dalam sniffing position Membantu membuka jalan napas dan memudahkan pemasangan
Pemasangan LMA Memasukkan mask ke dalam mulut dan diarahkan ke faring Menempatkan LMA pada posisi yang tepat di atas laring
Inflasi Cuff Melakukan inflasi cuff hingga segel tercapai Menciptakan segel yang efektif untuk ventilasi yang optimal
Verifikasi Posisi Memeriksa gerakan dada dan auskultasi untuk memastikan ventilasi Memastikan LMA berfungsi dengan benar dan tidak ada kebocoran udara

Teknik pemasangan yang benar membantu mengoptimalkan fungsi LMA. Setelah membahas teknik ini, mari kita beralih ke Komplikasi yang Mungkin Terjadi pada Penggunaan LMA untuk memahami risiko yang mungkin muncul dan cara mengatasinya.

LMA dan Difficult Airway Society (DAS): Peran dalam Manajemen Jalan Napas Sulit

Manajemen jalan napas yang sulit adalah tantangan yang sering dihadapi dalam anestesiologi dan perawatan kritis. Difficult Airway Society (DAS) adalah organisasi yang berfokus pada pengembangan protokol untuk mengelola jalan napas sulit, memberikan panduan yang mendetail dan komprehensif bagi praktisi medis dalam menangani kondisi ini. Salah satu alat yang memainkan peran penting dalam protokol DAS adalah Laryngeal Mask Airway (LMA), terutama sebagai alat penyelamat dalam situasi yang mengancam jalan napas.

Protokol DAS dalam Manajemen Jalan Napas Sulit

Protokol DAS dirancang untuk membantu dokter mengelola jalan napas yang sulit secara terstruktur dan aman. Pendekatan ini sangat berguna dalam situasi di mana intubasi trakea atau ventilasi melalui masker wajah tidak memungkinkan. Protokol DAS menguraikan tahapan spesifik yang harus diikuti saat menghadapi kegagalan intubasi atau kesulitan dalam mengelola jalan napas. Terdapat empat tahapan utama dalam protokol DAS yang sering disebut sebagai Plan A, B, C, dan D, yang dijelaskan sebagai berikut:

  1. Plan A: Optimasi Intubasi Laringoskopi

    Pada tahap pertama, dokter berusaha melakukan intubasi menggunakan teknik standar laringoskopi dengan berbagai upaya optimasi. Ini dapat mencakup penyesuaian posisi kepala, penggunaan alat bantu seperti videolaringoskop, atau teknik laringoskopi lainnya.

  2. Plan B: Ventilasi dengan Supraglottic Airway Device (SAD)

    Jika intubasi konvensional gagal pada Plan A, protokol DAS menyarankan penggunaan supraglottic airway device (SAD), seperti Laryngeal Mask Airway (LMA), untuk mempertahankan ventilasi sementara. LMA dapat memberikan akses jalan napas yang cepat dan minim trauma, memberikan oksigenasi yang cukup hingga tindakan definitif dilakukan.

  3. Plan C: Ventilasi dengan Masker Wajah

    Jika ventilasi dengan SAD tidak berhasil, langkah berikutnya adalah kembali mencoba ventilasi dengan masker wajah, dengan memperhatikan setiap aspek optimasi yang bisa dilakukan, seperti pengaturan posisi dan bantuan pernapasan manual. Tahap ini merupakan langkah penyelamatan untuk menjaga oksigenasi sementara.

  4. Plan D: Teknik Surgical Airway

    Jika semua upaya ventilasi dan intubasi gagal, protokol DAS menyarankan untuk mempertimbangkan tindakan bedah jalan napas atau surgical airway sebagai upaya terakhir. Teknik ini, seperti krikotiroidotomi, memberikan akses langsung ke trakea untuk mempertahankan jalan napas dan oksigenasi pasien.

Peran LMA dalam Protokol DAS

Sebagai alat supraglottic airway device (SAD), LMA memiliki peran esensial dalam protokol DAS, terutama pada Plan B. Penggunaan LMA memberikan kesempatan untuk memastikan ventilasi dan oksigenasi sementara di saat upaya intubasi konvensional tidak berhasil. LMA memungkinkan akses yang cepat dan kurang invasif dibandingkan dengan intubasi trakea, serta mengurangi risiko trauma pada pasien. Bagi praktisi medis, pemahaman yang baik tentang kapan dan bagaimana menggunakan LMA dalam protokol DAS dapat menjadi keterampilan yang sangat berharga dalam kondisi darurat.

LMA bukan hanya pilihan kedua dalam manajemen jalan napas sulit, tetapi juga alat penyelamat yang dapat mencegah terjadinya Cannot Intubate, Cannot Ventilate (CICV), suatu kondisi yang sangat mengancam nyawa. Dengan menggunakan protokol DAS, LMA dapat berfungsi sebagai solusi sementara yang memungkinkan dokter untuk mempertahankan oksigenasi hingga tindakan lebih lanjut dapat dilakukan.

Pemahaman yang komprehensif tentang protokol DAS dan peran LMA di dalamnya sangat penting bagi dokter dan praktisi medis yang bekerja di ruang anestesi dan unit perawatan intensif. Dengan mengikuti protokol ini, tenaga medis dapat memberikan perawatan yang lebih aman, efektif, dan terstruktur dalam menghadapi tantangan manajemen jalan napas yang sulit.

Perbandingan LMA dengan Teknik Airway Lainnya

Dalam manajemen jalan napas, terdapat berbagai teknik dan alat yang digunakan untuk memastikan oksigenasi dan ventilasi pasien secara efektif. Meskipun Laryngeal Mask Airway (LMA) adalah salah satu alat yang populer, ada juga teknik lain yang digunakan, seperti endotracheal tube (ETT) dan nasal airway. Masing-masing memiliki indikasi, keuntungan, dan keterbatasan yang berbeda. Berikut ini adalah perbandingan LMA dengan teknik airway lainnya.

Aspek LMA Endotracheal Tube (ETT) Nasal Airway
Indikasi Prosedur singkat dengan risiko aspirasi rendah, atau sebagai alat penyelamat dalam manajemen jalan napas sulit. Prosedur panjang, risiko aspirasi tinggi, atau kontrol penuh atas jalan napas diperlukan. Pasien dengan obstruksi jalan napas atas yang membutuhkan dukungan jalan napas, sering digunakan dalam situasi non-operatif.
Proteksi Aspirasi Memberikan proteksi parsial, tidak mencegah aspirasi penuh. Proteksi penuh terhadap aspirasi karena menutup trakea secara langsung. Proteksi minimal; tidak memberikan perlindungan khusus terhadap aspirasi.
Pemasangan Lebih cepat dan mudah dipasang tanpa visualisasi langsung. Memerlukan laringoskopi dan visualisasi trakea, sehingga pemasangannya lebih kompleks. Cukup dimasukkan melalui hidung dan diarahkan ke faring; pemasangannya relatif mudah.
Kenyamanan Pasien Umumnya nyaman bagi pasien yang tidak sadar; tidak menimbulkan trauma serius. Lebih invasif dan dapat menyebabkan iritasi pada pasien yang tidak diberi anestesi atau sedasi. Sering menimbulkan iritasi pada mukosa hidung, terutama pada pasien sadar.
Penggunaan di Kondisi Darurat Sangat berguna sebagai alat penyelamat dalam situasi "Cannot Intubate, Cannot Ventilate" (CICV). Diperlukan jika kontrol penuh terhadap jalan napas diperlukan; sering dipertimbangkan dalam situasi darurat. Dapat digunakan dalam darurat, tetapi umumnya hanya untuk dukungan jalan napas sementara.

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa masing-masing teknik memiliki keunggulan dan keterbatasannya sendiri. LMA menawarkan kemudahan pemasangan dan kenyamanan yang lebih besar dalam situasi darurat atau prosedur singkat. Endotracheal Tube (ETT), meskipun lebih invasif, memberikan kontrol penuh atas jalan napas dan proteksi aspirasi yang lebih baik, sehingga lebih ideal untuk prosedur kompleks dan kondisi risiko tinggi aspirasi. Sementara itu, nasal airway sering digunakan sebagai dukungan jalan napas sementara dalam kondisi non-operatif atau pada pasien dengan obstruksi parsial di faring.

Pemahaman yang mendalam tentang perbedaan antara LMA, ETT, dan nasal airway akan membantu tenaga medis memilih metode manajemen jalan napas yang paling tepat untuk kondisi klinis spesifik pasien. Dengan memahami kelebihan dan keterbatasan masing-masing alat, dokter dapat mengoptimalkan perawatan jalan napas yang lebih aman dan efektif bagi pasien.

Kesimpulan: Peran LMA dalam Perawatan Pasien dan Masa Depan Penggunaannya

Laryngeal Mask Airway (LMA) telah terbukti sebagai alat penting dalam anestesiologi dan manajemen jalan napas, terutama untuk prosedur singkat dan kondisi darurat. Alat ini memberikan alternatif yang lebih cepat dan sederhana dibandingkan endotracheal tube (ETT) serta membantu mengurangi risiko trauma pada jalan napas.

Dengan perkembangan teknologi, LMA juga terus diperbarui untuk memenuhi kebutuhan klinis yang semakin beragam. Varian seperti i-gel dan LMA Protector menawarkan fitur tambahan seperti segel otomatis tanpa cuff dan proteksi anti-infeksi, menjadikannya lebih aman dan nyaman untuk pasien.

Di masa depan, peran LMA kemungkinan akan semakin luas seiring inovasi desain dan material yang lebih canggih. Penggunaan bahan yang lebih lembut dan fleksibel, serta fitur keamanan tambahan seperti saluran drainase ganda dan lapisan anti-kuman, memungkinkan LMA untuk digunakan dalam lebih banyak skenario klinis, termasuk pada pasien dengan kondisi medis yang lebih kompleks atau risiko infeksi tinggi. Bagi yang baru mulai belajar tentang manajemen jalan napas, pemahaman mendalam tentang LMA akan menjadi landasan penting dalam menghadapi situasi darurat dan prosedur anestesi.

Sebagai alat yang serbaguna dan mudah digunakan, Laryngeal Mask Airway terus membuktikan perannya dalam meningkatkan keamanan dan kenyamanan pasien di berbagai situasi. Dengan semakin berkembangnya panduan dan protokol dari organisasi seperti Difficult Airway Society (DAS), LMA akan terus menjadi bagian penting dari peralatan medis dalam praktik anestesiologi dan perawatan intensif. Pengetahuan tentang LMA, jenis-jenisnya, serta teknik pemasangannya akan membekali dengan keterampilan dasar yang esensial dalam mengelola jalan napas, sehingga mereka siap menghadapi tantangan klinis di masa mendatang.


Daftar Pustaka
  1. Brain AI. The laryngeal mask–a new concept in airway management. Br J Anaesth. 1983;55(8):801-5.
  2. Cook TM, Woodall N, Frerk C. Major complications of airway management in the UK: results of the Fourth National Audit Project of the Royal College of Anaesthetists and the Difficult Airway Society. Br J Anaesth. 2011;106(5):617-31.
  3. Hein C, Owen H. Use of the laryngeal mask airway in difficult airway management. Can J Anaesth. 1997;44(10):1016-20.
  4. Frerk C, Mitchell VS, McNarry AF, et al. Difficult Airway Society 2015 guidelines for management of unanticipated difficult intubation in adults. Br J Anaesth. 2015;115(6):827-48.
  5. Levitan RM, Kinkle WC. Initial anatomic investigations of the I-gel airway: a novel supraglottic airway without inflatable cuff. Anaesthesia. 2005;60(10):1022-6.
  6. Asai T, Shingu K. Difficulty in inserting the laryngeal mask airway and tracheal intubation: incidence and risk factors. J Clin Anesth. 2004;16(2):112-5.
  7. American Society of Anesthesiologists Task Force on Management of the Difficult Airway. Practice guidelines for management of the difficult airway: an updated report by the American Society of Anesthesiologists Task Force on Management of the Difficult Airway. Anesthesiology. 2013;118(2):251-70.
  8. Ferson DZ, Rosenblatt WH, Johansen MJ, Osborn I, Ovassapian A. Use of the intubating LMA-Fastrach™ in 254 patients with difficult-to-manage airways. Anesthesiology. 2001;95(5):1175-81.
  9. Brain AIJ, Verghese C, Strube PJ. The LMA 'ProSeal'–a laryngeal mask with an oesophageal vent. Br J Anaesth. 2000;84(5):650-4.
  10. Rassam S, Wilkes AR, Hall JE, Mecklenburgh JS. A comparison of the i-gel™ with the LMA Unique™ in non-paralysed anaesthetised adult patients. Anaesthesia. 2009;64(10):1118-24.
  11. Gibbison B, Cook TM, Seller C, Pandit JJ, Jonker WR, O’Sullivan E. Anaesthesia, surgery, and life-threatening allergic reactions: epidemiology and clinical features of perioperative anaphylaxis in the 6th National Audit Project (NAP6). Br J Anaesth. 2018;121(1):159-71.
  12. Patel B, Bingham RM. Laryngeal mask airway and its variants. Anaesthesia. 1993;48(7):590-601.
  13. Peck TE, Hill SA, Williams M. Pharmacology for Anaesthesia and Intensive Care. 5th ed. Cambridge: Cambridge University Press; 2014.
  14. Rex MA, Hedden M. A comparison of the use of the laryngeal mask airway and the Guedel airway with endotracheal intubation in the management of difficult airways. Anaesthesia. 2000;55(1):45-9.
  15. Butchart N, Young P, Baker P. Use of the ProSeal laryngeal mask airway in 500 patients. Anaesth Intensive Care. 2003;31(1):78-81.
  16. Brimacombe J, Berry A. A proposed classification of clinical indications for laryngeal mask airway devices. Anaesthesia. 1993;48(7):590-4.
  17. Wharton NM, Gibbison B, Gabbott DA, Haslam GM, Lloyd CW, Cook TM. I-gel insertion by novices in manikins and patients. Anaesthesia. 2008;63(9):991-5.
  18. Sellers WF. The difficult airway in obstetric anesthesia. Anesthesiol Clin. 2017;35(1):15-25.
  19. Brain AIJ. The intubating laryngeal mask airway. In: Latto IP, Rosen M, editors. Difficulties in Tracheal Intubation. 2nd ed. London: Baillière Tindall; 1997. p. 110-24.
  20. Chemsian RV, Bhananker SM, Ramaiah R. Videolaryngoscopy. Int J Crit Illn Inj Sci. 2014;4(1):35-41.

Ramadhan MF. Laryngeal Mask Airway dalam Anestesiologi. Anesthesiol ICU. 2024;11:a6

Artikel terkait: