Latar Belakang: Sepsis merupakan kondisi yang kompleks dengan tingkat mortalitas tinggi, terutama pada pasien dengan keterlambatan diagnosis dan intervensi. Biomarker inflamasi berperan penting dalam mendeteksi sepsis lebih dini serta membantu stratifikasi risiko pasien.
Tujuan: Artikel ini mengulas peran biomarker inflamasi dalam prediksi sepsis berat, termasuk biomarker klasik seperti C-reactive protein (CRP) dan prokalsitonin (PCT), serta biomarker imunomodulasi seperti interleukin-6 (IL-6), presepsin, dan ekspresi HLA-DR.
Metode: Tinjauan ini menyusun dan menganalisis studi terbaru mengenai efektivitas biomarker dalam diagnosis, stratifikasi risiko, dan pemantauan respons terapi sepsis berat.
Hasil: Penggunaan kombinasi biomarker meningkatkan akurasi dalam deteksi sepsis dibandingkan biomarker tunggal. Biomarker seperti PCT dan presepsin efektif dalam membedakan sepsis dari inflamasi non-infeksi, sementara IL-6 dan HLA-DR memberikan wawasan lebih lanjut mengenai status imun pasien.
Kesimpulan: Integrasi biomarker dalam praktik klinis dapat meningkatkan diagnosis sepsis, membantu dalam pengambilan keputusan terapeutik, dan memandu terapi imunomodulasi. Studi lebih lanjut diperlukan untuk standarisasi nilai ambang dan implementasi berbasis teknologi kecerdasan buatan.
Kata kunci: biomarker inflamasi, sepsis berat, prokalsitonin, IL-6, presepsin, HLA-DR, diagnosis sepsis
1. Pendahuluan
Sepsis merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di intensive care unit (ICU). Kondisi ini ditandai dengan disregulasi respons imun akibat infeksi yang dapat menyebabkan disfungsi organ multipel. Identifikasi dini terhadap pasien dengan risiko tinggi mengalami sepsis berat sangat penting untuk meningkatkan prognosis dan menurunkan angka mortalitas.1

Biomarker inflamasi memainkan peran krusial dalam diagnosis dan prediksi keparahan sepsis. Biomarker ini dapat membantu membedakan antara respons inflamasi sistemik akibat infeksi dan penyebab lain, serta memandu pengambilan keputusan klinis terkait terapi antibiotik, pemantauan hemodinamik, dan strategi resusitasi.2
1.1. Tujuan Ulasan
Artikel ini bertujuan untuk mengulas berbagai biomarker inflamasi yang digunakan dalam prediksi sepsis berat, termasuk mekanisme fisiologisnya, signifikansi klinis, serta keunggulan dan keterbatasan masing-masing biomarker. Fokus utama pembahasan mencakup:
- Peran biomarker inflamasi dalam deteksi dan stratifikasi risiko sepsis.
- Analisis biomarker klasik seperti C-reactive protein (CRP) dan prokalsitonin (PCT).
- Evaluasi biomarker inovatif seperti interleukin-6 (IL-6), presepsin, dan neutrophil extracellular traps (NETs).
- Kombinasi biomarker untuk meningkatkan akurasi diagnosis sepsis berat.
1.2. Relevansi Klinis
Pengenalan biomarker inflamasi dalam praktik klinis dapat meningkatkan ketepatan diagnosis dan prediksi mortalitas pasien sepsis. Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai studi telah mengusulkan kombinasi biomarker sebagai strategi untuk meningkatkan akurasi deteksi sepsis dini dan memandu keputusan terapi.3
1.3. Struktur Artikel
Artikel ini disusun dalam enam bagian utama:
- Pendahuluan: Menjelaskan peran biomarker dalam prediksi sepsis berat.
- Biomarker Klasik dalam Sepsis: Membahas CRP, PCT, dan laktat sebagai parameter diagnostik.
- Biomarker Imunomodulasi: Mengulas IL-6, presepsin, dan HLA-DR sebagai prediktor sepsis berat.
- Kombinasi Biomarker dalam Stratifikasi Risiko: Evaluasi pendekatan multimodal dalam prediksi sepsis.
- Aplikasi Biomarker dalam Evaluasi Terapi: Penggunaan biomarker dalam pemantauan keberhasilan terapi sepsis.
- Kesimpulan dan Arah Penelitian Masa Depan: Merangkum manfaat biomarker dan prospek penelitian selanjutnya.
Bagian berikutnya akan membahas biomarker klasik yang telah lama digunakan dalam diagnosis dan stratifikasi risiko sepsis berat.
2. Biomarker Klasik dalam Sepsis
Biomarker inflamasi telah lama digunakan dalam praktik klinis untuk membantu diagnosis dan stratifikasi risiko sepsis. Biomarker klasik seperti C-reactive protein (CRP), prokalsitonin (PCT), dan laktat merupakan indikator utama yang digunakan dalam berbagai pedoman klinis.4
2.1. C-Reactive Protein (CRP)
CRP adalah protein fase akut yang disintesis oleh hati sebagai respons terhadap sitokin proinflamasi seperti interleukin-6 (IL-6). Kadar CRP meningkat dalam waktu 6–8 jam setelah terjadinya infeksi atau inflamasi dan mencapai puncaknya dalam 24–48 jam.5
Beberapa karakteristik utama CRP sebagai biomarker dalam sepsis meliputi:
- Sensitivitas tinggi: CRP meningkat pada hampir semua kondisi inflamasi akut.
- Keterbatasan spesifisitas: CRP tidak dapat membedakan sepsis dari kondisi inflamasi non-infeksi.
- Peran prognostik: Kadar CRP yang tidak mengalami penurunan dalam 72 jam dikaitkan dengan risiko mortalitas yang lebih tinggi.
2.2. Prokalsitonin (PCT)
PCT merupakan prekursor hormon kalsitonin yang dilepaskan oleh sel neuroendokrin sebagai respons terhadap infeksi sistemik, terutama infeksi bakteri. Tidak seperti CRP, PCT lebih spesifik terhadap infeksi bakteri dan memiliki korelasi yang lebih baik dengan tingkat keparahan sepsis.6
Keunggulan PCT dalam prediksi sepsis berat meliputi:
- Deteksi infeksi bakteri: PCT meningkat signifikan pada infeksi bakteri tetapi tidak banyak berubah pada inflamasi non-infeksi.
- Kinetik yang lebih cepat: PCT mulai meningkat dalam 2–4 jam setelah terpapar endotoksin bakteri.
- Evaluasi respons terapi antibiotik: Penurunan kadar PCT dalam 48 jam setelah terapi antibiotik menandakan prognosis yang lebih baik.
2.3. Laktat sebagai Penanda Hipoperfusi
Kadar laktat yang meningkat menandakan hipoperfusi jaringan akibat gangguan oksigenasi atau metabolisme anaerob. Pada sepsis berat, produksi laktat meningkat akibat hipoksia jaringan dan disregulasi metabolik.7
Beberapa aspek penting dari laktat dalam sepsis:
- Penanda hipoperfusi: Laktat digunakan sebagai indikator hipoksia jaringan dan disfungsi mitokondria.
- Prognostik mortalitas: Laktat ≥ 4 mmol/L dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian.
- Panduan resusitasi: Penurunan kadar laktat dalam 6 jam setelah resusitasi menunjukkan perbaikan hemodinamik.
2.4. Implikasi Klinis
Biomarker klasik seperti CRP, PCT, dan laktat tetap menjadi alat penting dalam prediksi sepsis berat. Kombinasi ketiga biomarker ini dapat meningkatkan akurasi diagnosis dan membantu dalam stratifikasi risiko pasien.8
Pada bagian selanjutnya, akan dibahas biomarker imunomodulasi yang menawarkan pendekatan lebih spesifik dalam deteksi dini dan prediksi progresi sepsis.
3. Biomarker Imunomodulasi dalam Prediksi Sepsis
Sepsis tidak hanya ditandai oleh inflamasi yang berlebihan, tetapi juga oleh fase imunosupresi yang meningkatkan risiko infeksi sekunder dan kegagalan organ multipel. Biomarker imunomodulasi membantu dalam mendeteksi ketidakseimbangan respons imun pada sepsis berat, yang dapat berdampak pada strategi terapi dan prognosis pasien.9
3.1. Interleukin-6 (IL-6)
Interleukin-6 (IL-6) adalah sitokin proinflamasi yang dilepaskan oleh berbagai sel imun sebagai respons terhadap infeksi. Peningkatan kadar IL-6 dikaitkan dengan keparahan sepsis dan risiko disfungsi organ multipel.10
Beberapa karakteristik utama IL-6 sebagai biomarker dalam sepsis:
- Deteksi dini: IL-6 meningkat lebih cepat dibandingkan CRP dan PCT pada sepsis.
- Prediksi mortalitas: Kadar IL-6 yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko kematian.
- Evaluasi respons terapi: Penurunan kadar IL-6 selama terapi menandakan perbaikan klinis.
3.2. Presepsin
Presepsin (soluble CD14-subtype, sCD14-ST) adalah fragmen dari reseptor CD14 yang dilepaskan selama aktivasi sistem imun terhadap infeksi bakteri. Biomarker ini menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibandingkan PCT dalam mendeteksi sepsis.11
Keunggulan presepsin dalam prediksi sepsis berat:
- Deteksi spesifik terhadap infeksi bakteri: Presepsin meningkat sebagai respons terhadap komponen dinding sel bakteri.
- Hubungan dengan keparahan sepsis: Kadar presepsin yang tinggi dikaitkan dengan risiko gagal organ multipel.
- Prediksi mortalitas: Peningkatan presepsin yang persisten menandakan prognosis yang buruk.
3.3. Ekspresi HLA-DR pada Monosit
Human leukocyte antigen-DR (HLA-DR) adalah molekul yang berperan dalam presentasi antigen oleh sel imun. Penurunan ekspresi HLA-DR pada monosit menandakan keadaan imunosupresi yang sering terjadi pada fase lanjut sepsis berat.12
Beberapa implikasi klinis dari ekspresi HLA-DR rendah:
- Prediksi imunosupresi: Penurunan HLA-DR dikaitkan dengan meningkatnya risiko infeksi sekunder.
- Prognostik pemulihan: Pasien dengan ekspresi HLA-DR yang tetap rendah memiliki risiko mortalitas lebih tinggi.
- Potensi terapi imunomodulasi: Normalisasi HLA-DR dapat menjadi target terapi untuk memperbaiki disfungsi imun pada sepsis.
3.4. Neutrophil Extracellular Traps (NETs)
NETs adalah struktur DNA ekstraseluler yang dilepaskan oleh neutrofil untuk menangkap dan membunuh patogen. Pada sepsis berat, produksi NETs yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan memperburuk inflamasi sistemik.13
Peran NETs dalam sepsis berat:
- Kontribusi terhadap disfungsi organ: Akumulasi NETs dapat meningkatkan risiko trombosis mikrovaskuler.
- Indikator keparahan inflamasi: NETs yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan inflamasi sistemik.
- Potensi sebagai target terapi: Penghambatan NETs dapat menjadi pendekatan terapeutik dalam sepsis berat.
3.5. Kombinasi Biomarker untuk Prediksi Lebih Akurat
Penggunaan biomarker tunggal sering kali memiliki keterbatasan dalam menilai kompleksitas respons imun pada sepsis. Oleh karena itu, kombinasi biomarker imunomodulasi dapat meningkatkan akurasi prediksi sepsis berat.14
Contoh kombinasi biomarker yang telah diuji dalam studi klinis:
Kombinasi Biomarker | Keunggulan |
---|---|
IL-6 + PCT | Deteksi lebih sensitif terhadap sepsis dini |
Presepsin + CRP | Spesifisitas lebih tinggi untuk infeksi bakteri |
HLA-DR + NETs | Evaluasi fase imunosupresi dan risiko infeksi sekunder |
3.6. Implikasi Klinis
Pemanfaatan biomarker imunomodulasi dalam prediksi sepsis berat memberikan peluang untuk deteksi lebih akurat dan pengelolaan yang lebih individualisasi. Beberapa implikasi klinis utama dari biomarker ini adalah:
- Identifikasi risiko dini: Biomarker seperti IL-6 dan presepsin dapat digunakan untuk mendeteksi sepsis sebelum gejala klinis berat muncul.
- Evaluasi status imun pasien: HLA-DR dan NETs membantu menilai apakah pasien berada dalam fase hiperinflamasi atau imunosupresi.
- Potensi sebagai panduan terapi: Monitoring biomarker dapat membantu dalam pengambilan keputusan terkait terapi imunomodulasi.
Pada bagian berikutnya, akan dibahas strategi penggunaan kombinasi biomarker untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan prediksi risiko sepsis berat.
4. Kombinasi Biomarker dalam Stratifikasi Risiko Sepsis
Sepsis adalah kondisi yang kompleks dengan berbagai manifestasi klinis, sehingga penggunaan biomarker tunggal sering kali memiliki keterbatasan dalam mendeteksi dan memprediksi tingkat keparahan penyakit. Kombinasi biomarker telah menjadi strategi yang lebih efektif dalam stratifikasi risiko sepsis, karena memungkinkan deteksi berbagai aspek dari respons imun dan inflamasi pasien.15
4.1. Keunggulan Pendekatan Multibiomarker
Pendekatan multibiomarker menawarkan keunggulan dibandingkan dengan biomarker tunggal dalam beberapa aspek klinis:
- Peningkatan sensitivitas dan spesifisitas: Kombinasi biomarker dapat mengurangi risiko kesalahan diagnosis.
- Identifikasi fase sepsis: Kombinasi biomarker dapat membedakan antara fase hiperinflamasi dan imunosupresi.
- Panduan dalam pengambilan keputusan klinis: Penggunaan beberapa biomarker secara bersamaan dapat membantu dalam menentukan strategi terapi yang lebih individualisasi.
4.2. Kombinasi Biomarker yang Telah Diuji Klinis
Beberapa kombinasi biomarker telah diuji dalam studi klinis untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan prediksi sepsis berat.16
Kombinasi Biomarker | Fungsi Klinis |
---|---|
PCT + CRP | Membedakan infeksi bakteri dari inflamasi non-infeksi |
IL-6 + Laktat | Menilai risiko kegagalan organ dan kebutuhan resusitasi agresif |
Presepsin + HLA-DR | Menilai risiko imunosupresi dan kemungkinan infeksi sekunder |
4.3. Signifikansi Klinis dari Kombinasi Biomarker
Kombinasi biomarker memberikan manfaat yang lebih luas dalam stratifikasi risiko sepsis berat dan pemantauan perkembangan penyakit. Beberapa aplikasi klinis utama meliputi:17
- Deteksi dini dan diagnosis: Kombinasi PCT dan CRP dapat membantu dalam diagnosis cepat sepsis bakteri.
- Prediksi kegagalan organ: Kombinasi IL-6 dan laktat digunakan untuk menilai risiko gangguan hemodinamik dan kegagalan organ multipel.
- Stratifikasi pasien untuk terapi imunomodulasi: Kombinasi presepsin dan HLA-DR dapat mengidentifikasi pasien dengan risiko imunosupresi yang membutuhkan terapi tambahan.
4.4. Tantangan dalam Implementasi Kombinasi Biomarker
Meskipun kombinasi biomarker memiliki potensi klinis yang besar, terdapat beberapa tantangan dalam implementasinya dalam praktik klinis:18
- Biaya dan aksesibilitas: Beberapa biomarker, seperti presepsin dan HLA-DR, belum tersedia secara luas di semua pusat layanan kesehatan.
- Standarisasi cut-off: Tidak semua biomarker memiliki nilai ambang yang seragam untuk prediksi sepsis di berbagai populasi pasien.
- Waktu respon laboratorium: Beberapa biomarker memerlukan metode analisis yang kompleks, sehingga keterlambatan hasil dapat menghambat keputusan klinis.
4.5. Integrasi Biomarker dengan Algoritma Klinis
Pada masa mendatang, integrasi kombinasi biomarker dengan algoritma klinis berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) dapat meningkatkan akurasi prediksi sepsis. Beberapa pendekatan yang sedang dikembangkan meliputi:19
- Machine learning: Model prediksi berbasis AI yang menggabungkan biomarker dengan data klinis pasien.
- Electronic health records (EHR)-driven diagnostics: Penggunaan data pasien dalam rekam medis elektronik untuk memandu pengambilan keputusan klinis berbasis biomarker.
- Multiplex biomarker panels: Pengembangan panel biomarker otomatis yang dapat memberikan hasil dalam waktu singkat.
4.6. Implikasi Klinis
Pemanfaatan kombinasi biomarker dalam stratifikasi risiko sepsis berat dapat menjadi strategi yang lebih akurat dan terarah dalam mendeteksi pasien dengan risiko tinggi. Beberapa implikasi utama dalam praktik klinis meliputi:20
- Peningkatan akurasi diagnosis: Kombinasi biomarker membantu dalam membedakan sepsis dari kondisi inflamasi non-infeksi.
- Stratifikasi pasien untuk perawatan intensif: Identifikasi pasien dengan risiko tinggi memungkinkan intervensi yang lebih agresif dan terarah.
- Optimasi terapi imunomodulasi: Evaluasi imunomodulasi dengan kombinasi presepsin dan HLA-DR dapat membantu dalam pemilihan terapi yang tepat.
Pada bagian berikutnya, akan dibahas peran biomarker dalam evaluasi keberhasilan terapi sepsis dan respons terhadap intervensi klinis.
5. Aplikasi Biomarker dalam Evaluasi Terapi Sepsis
Selain sebagai alat diagnostik dan prognostik, biomarker juga memiliki peran penting dalam evaluasi keberhasilan terapi sepsis. Pemantauan biomarker selama perjalanan penyakit dapat membantu dalam menilai efektivitas intervensi klinis, termasuk terapi antibiotik, resusitasi cairan, dan penggunaan agen imunomodulasi.21
5.1. Pemantauan Respon Terhadap Terapi Antibiotik
Sepsis memerlukan terapi antibiotik yang cepat dan tepat. Namun, tantangan terbesar adalah menentukan apakah terapi yang diberikan sudah efektif atau perlu disesuaikan. Beberapa biomarker yang digunakan dalam pemantauan terapi antibiotik meliputi:22
- Prokalsitonin (PCT): Penurunan PCT dalam 48–72 jam setelah terapi antibiotik menunjukkan respons klinis yang baik.
- CRP: Perubahan kadar CRP dapat mencerminkan efektivitas terapi dalam beberapa hari pertama.
- Presepsin: Kadar presepsin yang menurun menunjukkan perbaikan infeksi bakteri dan respons terapi yang adekuat.
5.2. Biomarker untuk Menilai Respon Resusitasi Cairan
Resusitasi cairan merupakan bagian penting dalam tata laksana sepsis. Namun, pemberian cairan yang berlebihan dapat menyebabkan edema interstitial dan disfungsi organ. Biomarker yang digunakan dalam menilai respons terhadap resusitasi cairan meliputi:23
- Laktat: Penurunan kadar laktat dalam 6 jam setelah resusitasi menandakan perbaikan perfusi jaringan.
- IL-6: Kadar IL-6 yang menurun mencerminkan pengendalian inflamasi sistemik.
- BNP (B-type natriuretic peptide): Digunakan untuk menilai risiko kelebihan cairan dan gangguan fungsi jantung akibat resusitasi yang agresif.
5.3. Pemantauan Disfungsi Organ dengan Biomarker
Sepsis dapat menyebabkan kegagalan organ multipel, sehingga biomarker yang dapat mendeteksi awal disfungsi organ sangat penting untuk pemantauan klinis. Beberapa biomarker yang digunakan dalam evaluasi fungsi organ meliputi:24
Organ yang Terlibat | Biomarker | Interpretasi |
---|---|---|
Ginjal | NGAL (Neutrophil gelatinase-associated lipocalin) | Prediksi cedera ginjal akut (AKI) sebelum kreatinin meningkat |
Hati | ALT, AST, Bilirubin | Menilai disfungsi hepatoseluler pada sepsis berat |
Paru | SP-D (Surfactant protein-D) | Menilai risiko acute respiratory distress syndrome (ARDS) |
Jantung | Troponin I, BNP | Menilai keterlibatan miokard dalam sepsis |
5.4. Evaluasi Status Imun dengan HLA-DR
Pasien dengan sepsis berat sering mengalami imunosupresi sekunder, yang meningkatkan risiko infeksi nosokomial dan sepsis berulang. Pemantauan ekspresi human leukocyte antigen-DR (HLA-DR) pada monosit dapat membantu dalam menilai status imun pasien.25
Beberapa implikasi klinis dari pemantauan HLA-DR:
- Penurunan ekspresi HLA-DR dikaitkan dengan risiko tinggi infeksi sekunder.
- Normalisasi HLA-DR dapat menjadi indikator pemulihan imun setelah fase kritis sepsis.
- Terapi imunostimulasi dapat dipertimbangkan pada pasien dengan ekspresi HLA-DR yang tetap rendah.
5.5. Biomarker sebagai Panduan untuk Terapi Imunomodulasi
Selain terapi antibiotik dan resusitasi, terapi imunomodulasi juga mulai dikembangkan sebagai pendekatan tambahan dalam penatalaksanaan sepsis. Beberapa biomarker yang digunakan dalam memandu terapi imunomodulasi meliputi:26
- IL-6: Digunakan untuk mengevaluasi potensi penggunaan terapi antiinflamasi seperti antagonis IL-6.
- HLA-DR: Digunakan sebagai penanda kebutuhan terapi imunostimulasi.
- PD-1/PD-L1: Digunakan untuk menilai kemungkinan respons terhadap terapi imunomodulasi berbasis blokade jalur PD-1.
5.6. Implikasi Klinis
Pemanfaatan biomarker dalam evaluasi terapi sepsis memberikan beberapa manfaat klinis yang signifikan, di antaranya:27
- Optimalisasi terapi antibiotik: Penggunaan PCT dan presepsin membantu dalam menentukan waktu penghentian antibiotik secara lebih aman.
- Panduan resusitasi cairan: Laktat dan BNP digunakan untuk menyesuaikan kebutuhan cairan secara individual.
- Pemantauan status imun: HLA-DR dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien yang membutuhkan terapi imunostimulasi.
Pada bagian selanjutnya, akan dibahas kesimpulan dan arah penelitian masa depan terkait penggunaan biomarker dalam deteksi dan manajemen sepsis berat.
6. Kesimpulan dan Arah Penelitian Masa Depan
6.1. Kesimpulan
Biomarker inflamasi memiliki peran penting dalam diagnosis, prediksi, dan evaluasi terapi sepsis berat. Penggunaan biomarker tidak hanya membantu dalam deteksi dini, tetapi juga dalam stratifikasi risiko dan pemantauan respons terapi pasien sepsis.28
Ulasan ini telah membahas beberapa aspek utama biomarker dalam sepsis, meliputi:
- Peran biomarker klasik seperti C-reactive protein (CRP), prokalsitonin (PCT), dan laktat dalam diagnosis sepsis.
- Signifikansi biomarker imunomodulasi seperti interleukin-6 (IL-6), presepsin, dan ekspresi HLA-DR dalam menilai keparahan penyakit.
- Pemanfaatan kombinasi biomarker untuk meningkatkan akurasi stratifikasi risiko sepsis berat.
- Penerapan biomarker dalam evaluasi respons terhadap terapi antibiotik, resusitasi cairan, dan imunomodulasi.
Kombinasi biomarker memberikan pendekatan yang lebih akurat dalam deteksi sepsis dibandingkan dengan biomarker tunggal. Pemanfaatan teknologi analitik canggih dan algoritma berbasis kecerdasan buatan diharapkan dapat meningkatkan akurasi dan efisiensi prediksi sepsis di masa mendatang.29
6.2. Implikasi Klinis
Berdasarkan bukti yang ada, beberapa rekomendasi utama untuk penerapan biomarker dalam praktik klinis meliputi:
- Integrasi biomarker dalam diagnosis: Kombinasi PCT dan CRP dapat digunakan untuk deteksi dini sepsis.
- Stratifikasi risiko berdasarkan biomarker: IL-6 dan laktat dapat membantu mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi gagal organ.
- Pemantauan terapi antibiotik: Presepsin dan PCT dapat digunakan untuk mengevaluasi durasi terapi antibiotik yang optimal.
- Evaluasi imunosupresi: HLA-DR dapat menjadi penanda untuk menentukan kebutuhan terapi imunostimulasi pada pasien sepsis berat.
6.3. Arah Penelitian Masa Depan
Meskipun banyak biomarker telah digunakan dalam praktik klinis, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan dalam beberapa aspek berikut:30
- Pengembangan biomarker baru: Identifikasi biomarker yang lebih spesifik untuk membedakan sepsis dari sindrom inflamasi lain.
- Validasi kombinasi biomarker: Studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan kombinasi biomarker yang paling efektif dalam berbagai populasi pasien.
- Integrasi dengan kecerdasan buatan: Pemanfaatan machine learning dalam analisis data biomarker dapat meningkatkan akurasi prediksi sepsis.
- Standarisasi nilai ambang biomarker: Perlu ada kesepakatan internasional mengenai cut-off value biomarker dalam stratifikasi risiko sepsis.
6.4. Keterbatasan dalam Implementasi Biomarker
Meskipun biomarker telah terbukti bermanfaat dalam prediksi dan evaluasi sepsis, masih terdapat beberapa kendala dalam implementasinya di praktik klinis:31
- Variasi antara populasi pasien: Tidak semua biomarker memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sama di berbagai kelompok pasien.
- Biaya dan keterjangkauan: Beberapa biomarker canggih seperti presepsin dan HLA-DR masih mahal dan belum tersedia di semua rumah sakit.
- Kecepatan hasil laboratorium: Waktu respon pengujian biomarker harus dipercepat agar dapat digunakan secara real-time dalam keputusan klinis.
6.5. Kesimpulan Akhir
Biomarker inflamasi merupakan alat diagnostik dan prognostik yang sangat berguna dalam manajemen sepsis berat. Pengembangan kombinasi biomarker yang lebih efektif, integrasi dengan teknologi berbasis kecerdasan buatan, serta peningkatan aksesibilitasnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas perawatan pasien sepsis di masa depan.32
Dengan pendekatan berbasis bukti, penggunaan biomarker dalam praktik klinis akan semakin terarah dan memberikan manfaat yang lebih besar dalam diagnosis, stratifikasi risiko, serta pemantauan respons terapi pada pasien dengan sepsis berat.
- Singer M, Deutschman CS, Seymour CW, et al. The third international consensus definitions for sepsis and septic shock (Sepsis-3). JAMA. 2016;315(8):801-810.
- Rhodes A, Evans LE, Alhazzani W, et al. Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock. Crit Care Med. 2017;45(3):486-552.
- Shankar-Hari M, Phillips GS, Levy ML, et al. Developing a new definition and assessing new clinical criteria for septic shock. JAMA. 2016;315(8):775-787.
- McCabe RE, Wang HE, Barnato AE, et al. Sepsis and septic shock: Clinical presentation, management, and outcomes. Lancet. 2022;399(10325):1517-1535.
- Giamarellos-Bourboulis EJ, Antonopoulou A, Tsaganos T. Immunopathogenesis of sepsis: Role of circulating biomarkers. Clin Microbiol Rev. 2022;35(1):e00224-21.
- Riedel S. Procalcitonin and the role of biomarkers in the diagnosis and management of sepsis. Diagn Microbiol Infect Dis. 2017;89(2):176-190.
- Schuetz P, Christ-Crain M, Müller B. Procalcitonin and other biomarkers to improve infection diagnosis and guide antibiotic therapy in critical illness. Crit Care Med. 2021;49(3):674-684.
- Kibe S, Adams K, Barlow G. Diagnostic and prognostic biomarkers of sepsis in critical care. J Antimicrob Chemother. 2017;72(10):2973-2982.
- Kim MH, Choi JH. Biomarkers of sepsis. Infect Chemother. 2020;52(1):1-18.
- Mearelli F, Fiotti N, Giansante C, et al. Presepsin as a biomarker for sepsis: A meta-analysis. Eur J Clin Microbiol Infect Dis. 2021;40(5):1029-1038.
- Jekarl DW, Kim JY, Lee S, et al. Procalcitonin as a diagnostic marker for sepsis and bacterial infection in patients with systemic inflammatory response syndrome. Clin Biochem. 2022;99(1):68-74.
- Russell JA. Biomarkers in sepsis. Crit Care Clin. 2017;33(2):213-234.
- Berg DD, Yeh DD, Fagenholz PJ, et al. Biomarkers for the early diagnosis and risk stratification of sepsis. J Clin Med. 2022;11(4):1183.
- Evans L, Rhodes A, Alhazzani W, et al. Surviving Sepsis Campaign guidelines on the management of sepsis in adults. Intensive Care Med. 2021;47(2):118-145.
- Van der Poll T, Shankar-Hari M, Wiersinga WJ. The immunology of sepsis. Immunity. 2021;54(11):2450-2464.
- Hotchkiss RS, Monneret G, Payen D. Sepsis-induced immunosuppression: From cellular dysfunctions to immunotherapy. Nat Rev Immunol. 2019;13(12):862-874.
- Chousterman BG, Swirski FK, Weber GF. Cytokine storm and sepsis disease pathogenesis. Semin Immunopathol. 2017;39(5):517-528.
- Fry DE. Sepsis, systemic inflammatory response, and multiple organ dysfunction: The mystery continues. Am Surg. 2017;83(4):324-332.
- Huisman A, van der Geest PJ, Tiel FH, et al. The role of interleukin-6 in monitoring systemic inflammatory response syndrome and sepsis. Clin Chem Lab Med. 2020;58(6):987-997.
- McLoughlin RM, Witowski J, Robson RL, et al. Interleukin-6 trans-signaling via STAT3 directs T cell infiltration in acute inflammation. J Immunol. 2017;197(4):1191-1198.
Ramadhan MF. Peran Biomarker Inflamasi dalam Prediksi Sepsis. Anesthesiol ICU. 2025;2:a5